Selasa, 11 Januari 2011

LPI vs LSI

Akhirnya LPI atau yang kita ketahui sebagai Liga Premier Indonesia akan bergulir pada tanggal 8 Januari 2011, dengan pertandingan pertama antara Kesatria IX Solo melawan Persema. Sebagai catatan LPI ini adalah liga yang di bentuk oleh stakeholders’ sepakbola Indonesia yang merasa tidak puas dengan liga yang dibuat PSSI yaitu ISL. Seperti yang kita ketahui bahwa produk kompetisi yang dihasilkan PSSI selalu menuai kontroversi, sebagai contoh isu suap wasit, pemenang kompetisi yang sudah diketahui jauh hari, kerusuhan antar supporter, mutu wasit yang rendah dll. Hal yang paling berbeda antara IPL dengan ISL adalah bidang pembiayaan klub peserta kompetisi. Jika di ISL sebagian klubnya masih menggunakan dana APBD untuk kelangsungan hidup klub. Sedangkan di IPL, konsorsium PT. LPI memberikan dana kepada setiap klub untuk menjalankan sebuah klub dan menuntut setiap klub itu dapat bertanggung jawab secara professional terhadap dana yang diberikan, bagaimana klub itu dituntut untuk berfikir cara memutar dana tersebut kembali dan mendapatkan profit dan bukan hanya menghabiskan, lain halnya dengan dana APBD yang digunakan ISL, karena dana tersebut adalah dana yang disiapkan untuk sebuah klub dan klub tersebut tidak berkewajiban untuk mengembalikan dana tersebut justru menghabiskan. Jika kita sebagai klub terus mengandalkan dana APBD yang selama ini diperoleh, klub pun selamanya akan menete’ terus, tidak akan pernah mandiri. Dan kita sudah tahu bagaimana sulitnya birokrasi yang ada dalam negeri ini, karena dana ini adalah dana yang diambil dari uang rakyat, pemerintah tidak bisa sembarangan mencairkan dana ini kepada klub, dengan kendala yang ada, kita masih sering mendengar keterlambatan gaji untuk pemain, hal ini tidak akan terjadi apabila kita tidak menete’ kepada APBD. Bagi saya sepakbola adalah industri, industri yang harus professional jika ingin maju dan berkembang. Dengan berkembangnya industri sepakbola ini, berkembang pula ekonomi dari sebuah Negara, apalagi di Indonesia yang semua masyarakatnya gila akan sepakbola. Memang di dalam ISL itu sendiri ada 3 tim yang sudah mulai berhenti menete’ APBD, yaitu Persib Bandung, Arema Malang, Bontang FC, klo baru 3 tim yang melakukan ini, sebenarnya PSSI belum pantas melabelkan ISL ini liga professional yang selama ini selalu di dengungkan mereka.

Pendapat saya, mengenai sikap reaktif yang dilakukan PSSI dengan adanya IPL ini terlalu berlebihan. Kenapa belebihan? Ini pendapat saya. Seharusnya PSSI bersyukur dengan adanya IPL ini, karena mereka mendapat sebuah wadah kompetisi tambahan yang professional, tanpa harus berfikir darimana dana yang harus dikeluarkan untuk menjalankan kompetisi ini. Karena seperti yang kita ketahui PSSI selalu menjadikan kata “dana yang terbatas” jika ditanya minimnya kompetisi yang ditelurkan PSSI. Hal yang lain, dengan adanya tambahan kompetisi yang digarap dengan baik dan professional, lahan untuk pemain untuk bermain pun menjadi lebih luas, pemain asli Indonesia mendapat minute play yang banyak, dan imbasnya menambah database pemain yang dapat menunjang timnas kita kelak. Kita tidak perlu takut dengan masuknya pemain asing di dalam liga, karena masih ada kompetisi yang lain. Dan kita tidak perlu takut akan eksodus pemain asing yang datang asal jelas darimana asalnya sehingga mutu kompetisi kita meningkat, bisa kita lihat liga-liga eropa disana, bayangkan kalau di liga Inggris hanya pemain-pemain Inggris yang bermain, saya yakin mutu liganya pun akan rendah. Selain itu dengan adanya kompetisi tambahan, pemain sepakbola mendapatkan lapangan pekerjaan yang baru dan layak untuk kehidupan mereka. Ini hanya beberapa keuntungan jika PSSI mendukung atau merangkul IPL untuk berkembang. Kesan yang sejauh ini saya tangkap, PSSI takut lahan sponsornya diambil, supporter timnya terpecah, dll. Kalau boleh saya Tanya kepada bapa-bapa PSSI disana? Apa yang kalian takutkan dari IPL yang masih bau kencur ini? Istilahnya masih bayi, merangkak aja belum, dibanding dengan organisasi bapa yang sudah berapa tahun lamanya? (tapi ga maju-maju), bayangkan sampai mengadu ke kepolisian? IPL itu mau menyelenggarakan kompetisi sepakbola, bukan membuat kompetisi korupsi bersama layaknya bapa-bapa PSSI disana. Kesan yang PSSI timbulkan ini sungguh membuat saya kecewa, yak lagi-lagi kecewa yang saya dapat, selain nirgelar dan prestasi PSSI selama ini, kenapa mereka begitu panik dengan adanya IPL ini, hingga mengancam membekukkan klub peserta IPL, membekukan pelatih dan pemain klub IPL, dengan perlakuan ini mereka mematikan lapangan pekerjaan kepada atlet-atlet sepakbola juga para pelatih, selain mematikan sepakbola negeri ini sendiri. Kenapa mereka tidak mencoba memperbaiki tubuh mereka sendiri dulu baru mengurusi tubuh orang lain. Sepakbola ini milik rakyat sepenuhnya bukan milik organisasi, biarkanlah masyarakat yang menilai mana tontonan yang baik untuk mereka, saya kira penonton di Indonesia sudah mulai dewasa untuk menilai mana yang baik bagi mereka. Toh pada akhirnya jika IPL ini hanya kompetisi abal-abal yang numpang tenar, masyarakat sendiri yang akan meninggalkanya. Kenapa PSSI takut kepada kompetisi yang baru akan memulai liganya??belum mempunyai pengalaman. Dibanding PSSI, IPL tidak memiliki pengalaman untuk menjalankan kompetisi. Harusnya PSSI sebagai, katakanlah senior membantu juniornya yaitu IPL untuk sama-sama memajukan dan membangun Industri sepakbola yang baik, dan membuat kita sebagai masyarakat Indonesia, bangga akan timnasnya dan suatu saat kita akan mengatakan timnas kita yang menjuarai kompetisi ini itu, bukan bangga akan timnas yang “hampir” menjuarai ini itu. Aahh jika saja PSSI ini sedikit saja sadar akan hal ini, saya yakin kita tidak akan pernah berkata “hampir” lagi. HIDUP TIMNAS! NURDIN TURUN! 


LOVE U INDONESIA!!!!