Rabu, 29 September 2010

National Geographic


Bahasa yang “Hilang” ditemukan kembali di belakang surat berumur 400 tahun


Bahasa asli Peru ditemukan kembali di sisa-sisa gereja.


Published 27 Agustus 2010

Menurut para arkeolog, catatan yang berada di bagian belakang surat berumur 400 tahun ini mengungkapkan bahasa yang tidak diketahui sebelumnya, pernah digunakan sebagai alat komunikasi oleh masyarakat utara peru jaman dahulu. Catatan ini ditulis oleh seorang penulis spanyol kemudian hilang selama 4 abad lamanya, dan akhirnya ditemukan di reruntuhan gereja kuno kolonial spanyol pada tahun 2008. Tetapi para ahli bahasa dan ilmuwan akhir-akhir ini mengungkapkan pentingnya mengetahui kata-kata yang tertulis di sisi lain bagian surat.

“Meskipun [huruf] tidak memberitahu kami banyak, tetapi hal ini memberitahu kami tentang bahasa yang berbeda dari apa yang pernah kita ketahui sebelumnya dan ini menunjukkan bahwa mungkin ada lebih banyak di luar sana," kata pemimpin proyek Jeffrey Quilter, seorang arkeolog di Harvard Peabody Museum Arkeologi dan Etnologi.

Satu dari dua bahasa yang “hilang” telah di kenal? Menurut Quitler, bahasa asli ini, mungkin saja dipinjam dari Quecha, karena hingga saat ini masih dipakai oleh penduduk asli peru. Satu dari dua bahasa asli ini memerlukan lidah yang unik untuk mengucapkannya, oleh sebab itu penduduk disana memakai bahasa ini untuk membahasakan text-text kontemporer, contohnya “Quingnam” dan “Pescadora” sebuah kata yang dikenal dikalangan nelayan. Para ahli memaparkan fakta dua persamaan lidah yang telah diartikan berbeda bahasanya oleh para ahli taurat spanyol. Persamaan terjadi dalam penulisan terjemahan nomer, dimana bahasa yang “hilang” ini memakai system 10 angka dan juga angka decimal,sesuai dengan aturan bahasa Inggris. Sementara suku Inca memakai system 10 angka, banyak budaya yang tidak menerapkan system ini, contohnya Suku Maya menurut Quitler, mereka memakai system 20 angka.

Ketidakberuntungan Gereja adalah Kekuatan Arkeolog

Surat ini ditemukan pada saat penggalian gereja di gereja “de Magdalena Cao Viejo” di Kompleks penelitian El Brujo di Peru Utara (National Geographic Society, yang memiliki National Geographic News, menjadi sponsor dari penelitian ini di masa lalu)

Menurut Quitler, Gereja yang melayani masyarakat kota terdekat yang pernah dihuni oleh masyarakat adat ini dipaksa pindah tempat oleh Spanyol, mungkin hal ini dilakukan bertujuan untuk konversi kekristenan. Quitler pun menambahkan, Fragment yang menggiurkan ini hanya satu dari ribuan kertas bersejarah yang ditemukan di tempat penelitian tersebut, baik yang telah diawetkan oleh iklim yang sangat kering dan juga runtuhan gereja.

“arkeolog itu hidup dari ketidakberuntungan orang lain”, ucap Quitler

Kolonial Spanyol, mengalami ketidakberuntungan dengan runtuhny gereja (sekitar pertengahan akhir abad ke 17) kertas-kertas tersebut terperangkap di kantor atau di perpustakaan dimana mereka menyimpannya.


Bahasa sebagai petunjuk Keragaman Budaya

Quitler melanjutkan, menemukan bahasa baru di Magdalena de Cao Viejo akan membantu untuk memperkuat keragaman budaya ,yang ditemukan di awal masa colonial Amerika. Sesuai dengan petuah orang Cina yang mengatakan “semoga kamu hidup dalam waktu yang paling menarik” penemuan ini menurut Quitler adalah waktu yang paling menarik untuknya.

"Kita sering memikirkan sebuah konfrontasi dari Spanyol dan penduduk asli Amerika, tetapi di hampir setiap lokasi, dari Massachusetts hingga Peru, kami menemukan ini adalah konfrontasi dari beberapa kelompok yang beragam.", lanjut Quitler. Sebagai contoh, kolonialis dari beberapa bagian Eropa dikelompokkan ke dalam "Spanyol," dan di Amerika ada banyak orang yang berbicara bahasa yang berbeda dan memiliki kebiasaan yang berbeda. Semua hal ini menunjukkan bahwa betapa kaya dan beragamnya dunia ini.


Penemuan bahasa yang “hilang” dijelaskan dalam edisi September jurnal Antropolog Amerika.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar